Siapa yang tak kenal dengan bangsa Yahudi, bangsa yang saat ini diakui dengan kekuatan serta kemampuannya untuk tetap survive dalam segala tekanan yang mereka hadapi. Pada awal kemunculannya, bangsa Yahudi menuai banyak sekali kontroversi dan banyak dari mereka negara-negara di dunia tidak mengakui akan eksistensi bangsa ini.
Siapa yang sangka kalau sekarang bahkan bangsa ini mempunyai negara sendiri, hidup dan berpijak diatas kaki sendiri dan menyebar keseluruh dunia membawa ideologinya dan berkuasa di bidangnya.
Mungkin kita akan terkagum-kagum melihat orang-orang yang begitu cemerlang dibidangnya, bagaimana dia menekuni pekerjaan yang luar biasa, serta bagaimana ia mendapatkan penghargaan atas apa yang ia kerjakan. Tapi kecenderungan yang ada ketika kita memulai untuk mengamati seseorang ialah kita terlalu melihat mereka secara sepintas dari apa yang telah mereka peroleh, bukan dari apa yang telah mereka upayakan.
Mungkin jika kita melihat Albert Einstein kita akan teringat dengan pencapaian besarnya, teori-teori tengtang relativitas dan beberapa tesis lainnya yang mendapatkan penghargaan berupa Nobel. Tapi pernahkah kita melihat dan bertanya dalam angan kita berapa kali kiranya dia gagal dalam segala percobaan yang pernah ia lakukan untuk meraih apa yang telah ia raih saat ini?. Jarang sekali, kita kadang menjadi sangat buta dan hal itu akan membuat kita mudah jatuh kedalam jurang angan dan khayalan semu.
Kalau kita melihat dari sejarah serta budaya serta pemahaman yang terus diwariskan kepada anah cucu bangsa yang hudi maka kita akan menemukan sebuah kesimpulan sederhana. Bahwasanya bangsa Yahudi sangat menghargai dan mementingkan apa yang kita sebut sebagai pendidikan.
Mungkin pemahaman kita tentang arti pendidikan dengan pemahaman mereka, bangsa Yahudi memang berbeda. Pendidikan bagi kita kadang hanya sebatas duduk di kelas, mendengar, mencatat, dan menghafal. Dimulai dari bangku SD dan berakrir kala kita telah mencapai gelar sarjana atau yang lebih tinggi dari itu. Tapi bagi mereka, kaum Yahudi pendidikan mempunyai arti lebih luas lagi.
Pendidikan dimulai sejak mereka mulai mengandung anak mereka. Mereka mulai mengerjakan soal matematika dan bermain musik setiap harinya. Mereka mulai membiasakan diri untuk membuat buah hatinya mencintai sains dan ilmu eksakta lainnya. Dengan bermain musik dan mengerjakan soal, merupakan sebuah usaha sekaligus sikap mereka bagaimana mereka sangat menghargai apa itu pendidikan.
Sangat teliti dengan apa yang dimakan dan masuk kedalam tubuh mereka. Itu merupakan salah satu ciri khas dari bangsa Yahudi. Terlihat bagaimana ketika mereka memilah bagian makanan saat mereka mulai menyantap ikan, mereka tak hanya tahu kenapa mereka harus melakukannya, tepi mereka menyadari bahwa itu dirasa penting untuk ia lakukan untuk kebaikannya sendiri.
Sangat berbeda dengan kita, meskipun makanan yang ada di depan kita sebenarnya tidak begitu baik untuk kita, kita akan tetap memakannya selama kita kenyang, makanan enak, dan dampaknya belum terlihat jelas bagi kita. ya, itulah orang Indonesia yang lebih suka mengobati daripada mencegah. Sepertinya kita memang benar-benar harus belajar dari orang Yahudi.